LOMBOK TENGAH – Aksi tawuran antarpelajar yang terjadi di kawasan Tampar-Ampar, Praya, Lombok Tengah, menghebohkan masyarakat setelah videonya beredar luas di media sosial. Peristiwa yang dipicu persoalan sepele itu akhirnya berhasil diselesaikan secara damai melalui mediasi yang melibatkan pihak sekolah, orang tua, dan kepolisian.
Keributan tersebut melibatkan sejumlah pelajar dari beberapa sekolah. Video yang memperlihatkan aksi saling serang antarpelajar pun dengan cepat menjadi perhatian warganet dan memicu beragam tanggapan.
Kasi Humas Polresta Lombok Tengah, IPTU Lalu Brata Kusnadi, menjelaskan bahwa insiden itu berawal dari kejadian yang sebenarnya tidak disengaja. Seorang pelajar berinisial AA menendang sebuah botol yang kemudian mengenai pelajar lain berinisial DY.
“Awalnya salah satu pelajar menendang botol, namun tanpa sengaja mengenai pelajar lainnya. Meski sudah meminta maaf, permintaan maaf tersebut tidak diterima sehingga terjadi cekcok yang kemudian berkembang menjadi tawuran,” ujar IPTU Lalu Brata Kusnadi.
Meski AA telah menyampaikan permintaan maaf, situasi justru semakin memanas hingga keduanya menghubungi teman-teman mereka dari sekolah lain. Akibatnya, kedua kelompok berkumpul dan terjadilah aksi tawuran.
Beruntung, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka berat. Namun, sebuah sepeda motor milik salah seorang pelajar menjadi sasaran amukan massa hingga mengalami kerusakan.
Menindaklanjuti kejadian itu, Polresta Lombok Tengah langsung mengambil langkah antisipasi. Salah satunya dengan meningkatkan patroli rutin di sejumlah sekolah, terutama pada jam pulang sekolah yang dinilai rawan terjadi gesekan antarpelajar.
“Kami meningkatkan patroli di sekolah-sekolah, terutama pada saat jam pulang sekolah, serta berkoordinasi dengan pihak sekolah agar pengawasan terhadap para pelajar lebih diperketat. Harapannya kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” katanya.
Selain itu, kepolisian juga berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memperkuat pengawasan terhadap aktivitas para siswa di luar lingkungan sekolah. Langkah ini diharapkan dapat mencegah munculnya konflik serupa di kemudian hari.
Di sisi lain, pihak sekolah bergerak cepat dengan memanggil seluruh pelajar yang terlibat beserta orang tua atau wali mereka ke Aula MAN 1 Praya. Mediasi yang difasilitasi pihak sekolah dan kepolisian berlangsung dalam suasana kondusif.
“Seluruh pihak yang terlibat, baik pelajar, orang tua, maupun pihak sekolah, telah sepakat menyelesaikan persoalan ini secara damai melalui mediasi. Kami berharap ini menjadi pelajaran agar para pelajar tidak mudah terpancing emosi,” tutup IPTU Lalu Brata Kusnadi.
Hasil mediasi tersebut membuat kedua belah pihak sepakat mengakhiri perselisihan secara damai dan menyelesaikan persoalan melalui jalur kekeluargaan. Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi pembelajaran bagi seluruh pelajar agar tidak mudah terpancing emosi dalam menghadapi persoalan.
Polisi juga mengimbau para pelajar untuk mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Selain itu, peran orang tua, guru, dan lingkungan sekolah dinilai sangat penting dalam membina karakter siswa agar tidak terlibat dalam aksi kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.


Comment